Diduga Kabulog ‘Cuci Tangan’ Terkait Salah Antar Beras 10 Ton

  • Whatsapp

LUBUKLINGGAU – Pernyataan yang dibeberkan Kepala Badan Urusan Logistik (Bulog) Cabang Kota Lubuklinggau terkait 10 ton beras salah antar dinilai hanyalah suatu pembelaan diri atau “Cuci Tangan”. Hal itu diungkapkan Andy Lala selaku penggiat anti korupsi dan pemerhati kebijakan pemerintah daerah.

“Salah antar, itu alasan yang lucu menurut saya. Kalau salah antar kenapa yang lain nya tidak, padahal kan dari 10 ton yang dinilai tidak layak itu yang dipesan 60 ton, masa yang 50 ton lolos sementara 10 ton salah antar.” Kata Pemuda berkepala plontos itu.

Dikatakan kembali oleh Andy, hal ini “bopong” atau ketahuan atas adanya pengecekan yang dilakukan Walikota Lubuklinggau, namun apa bila tidak, Andy menduga dibalik 10 ton beras tersebut ada suatu percobaan “berhadiah”.

“saya berharap ini hanya dugaan saya saja, semoga dugaan ini tidak terjadi di kasus ini. Jika, pak Wali tidak melakukan pengecekan sudah dipastikan beras ini lolos dan beredar di masyarakat. Jika terjadi hal itu, terindikasi ada oknum yang telah diuntungkan, karena beras yang dipesan bukanlah seperti 10 ton beras yang dinilai tidak layak tersebut,” Jelas Andy.


Berdasarkan informasi yang dihimpun, 60 ton beras yang didistribusikan oleh Badan Urusan Logistik(Bulog) Lubuklinggau diketahui berasal dari Provinsi Lampung atas pesanan atau permintaan Pemerintah Kota Lubuklinggau melalui Dinas Perdagangan dan Pasar (Disperindagsar) Kota Lubuklinggau untuk Bantuan Sosial (Bansos) masyarakat Lubuklinggau ditengah pandemi covid-19.

Terungkapnya 10 ton beras yang dinilai tidak layak itu berdasarkan hasil pengecekan Walikota Lubuklinggau sekaligus ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19, H.SN Prana Putra Sohe beberapa hari lalu digudang sembako posko covid-19. Atas temuan itu, Walikota memerintahkan untuk mengembalikan kembali 10 ton beras tersebut kepada Bulog.

Akan tetapi pernyataan yang dikeluarkan oleh Walikota sekaligus Ketua GTPP Covid-19 Lubuklinggau tersebut dianulir oleh Vinaldo Fernandez.

Menurut Vinaldo beras tersebut bukanlah tidak layak untuk dibagikan kepada masyarakat, namun hanya tidak sesuai pesanan yang seperti mana dipesan oleh pemerintah Kota Lubuklinggau.

Vinaldo pun beralibi, 10 ton tersebut tadinya merupakan hasil tolakan bulog, akan tetapi akibat kurangnya pengawasan dan salah tafsir nya seorang sopir, beras tersebut akhirnya salah antar ke gudang sembako posko induk covid-19.

(PGT/PS)

Pos terkait