Kasus STQH Muratara Terus Berlanjut, Tipikor Tunggu Dokumen Pembanding Harga

  • Whatsapp

MURATARA | LINGGAUUPDATE.COM —Pemeriksaan dugaan penyimpangan di kegiatan Seleksi Tilawatil Quran dan Hadist (STQH) Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara) terus bergulir di Tindak Pidana Korupsi (TIPIKOR) Polres Musi Rawas. Rabu (14/08).

Kasat Reskrim AKP Wahyu Setyo Pranoto  melalui  Kanit Tipikor IPDA khoiril menegaskan terus bekerja untuk mengugkap  dugaan penyimpangan di kegiatan STQH Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara) .

“Proses tetap berlanjut, saat ini kita sedang mempelajari semua berkas dokumen yang telah masuk,” Tegas Kanit Tipikor kepada awak media dengan semangat.

Dibeberkan Ipda Khoiril, saat ini tim penyidik Tipikor menunggu dokumen perbandingan harga untuk segera ditelaah.

Dan untuk pemeriksaan terhadap beberapa pihak yang terkait, setelah sebelumnya Kabag Kesra, Nawawi, Pejabat Pelaksa Teknis Kegiatan (PPTK), Widya Wulandari. Tim penyidik Tipikor juga telah memanggil serta memeriksa rekanan yakni PT. Untuk Negeri Production yang diketahui selaku Event Organizer untuk dimintai keterangan atas keterlibatan dikegiatan yang dianggarkan dengan nilai miliaran rupiah itu.

Tak hanya sampai di EO, penyidik juga telah memanggil rekanan penyedia makan minum kegiatan, namun pemanggilan tersebut tidak dipenuhi Catering Sempurna.

“terakhir kita memeriksa EO dan Catering nya, tapi yang datang cuma EO, sedangkan Catering tidak ada kabar nya,” ujar Ipda Khoiril.

Disisi lain, MS Iqbal Rudianto, Direktur PT Untuk Negeri Production mengakui dan membenarkan bahwa dirinya telah dipanggil dan diperiksa oleh penyidik Tipikor Polres Musi Rawas, namun dirinya tidak dapat berkomentar lebih banyak dan mengintruksikan awak media untuk konfirmasi langsung kepada Wawan yang diakui nya selaku pelaksana di lapangan.

Dalam keterangannya Wawan juga mengaku diminta keterangan oleh penyidik. Menurutnya, beberapa berkas sudah kita serahkan kepada penyidik Tipikor dan menjawab pertanyaan seputar perannya dilapangan dalam kegiatan STQH.

“Pengalaman kami dibeberapa daerah biasanya setiap kegiatan itu Satu (1) paket dan tidak dipisahkan. Di lapangan baru kita serahkan sub kegiatan pada rekan-rekan yang sejak awal ikut gabung bersama EO kita”, terang Wawan.

Lanjut Dia, di Muratara kita tidak Satu paket, hanya khusus tenda, sound system dan beberapa kegiatan terkait aksesoris.

“Kalau kita tahu sejak awal pelelangan sudah kusut seperti ini dan bermasalah dengan hukum, EO kita tidak akan masuk ke Muratara. “Cukup ini yang terakhir”, ujar Wawan.

Serta dibantah Wawan bahwa ada informasi EO memakai dana dari seseorang oknum pejabat yang mengakibatkan oknum tersebut rugi. (TIM)

Pos terkait