Kontroversi Dugaan Men-COVID-kan Pasien Meninggal Asal 4 Lawang

  • Whatsapp

LINGGAUUPDATE.COM — Penetapan positif corona pasien meninggal atas nama M Danil (58) tahun warga desa Padang Titiran,Kecamatan Talang Padang, Kabupaten Empat Lawang menuai kontroversi terutama dari pihak keluarga almarhum.

Pihak keluarga tidak bisa menerima penetapan positif corona terhadap almarhum karena anak dan istri almarhum merasa tidak pernah ada proses pengambilan swab terhadap almarhum.

” Bagaimana bisa menetapkan seseorang posotif corona, sedangkan tidak dilakukan swab, ibu saya tidak pernah meninggalkan ayah saat dirawat di AR Bundar dari mulai ayah masuk UGD, kemudian dipindah ke ruang isolasi karena ruangan penuh sampai ayah meninggal dan dibungkus kan kafan dan dimasukan kedalam peti, itu ayah tidak dimandikan,”terang Dahli anak angkat almarhum M Danil, Selasa (08/09/2020) malam.

Pihak keluarga menantang pihak RS AR Bunda Kota Lubuklinggau untuk membuka ke pihak keluarga dan ke publik bukti bahwa adanya proses swab terhadap almarhum, salah satu bukti kongkritnya rekaman CCTV.

” Almarhum ayah kami dirujuk dari Empat Lawang ke RS AR Bunda pada tanggal 30 Agustus 2020 pukul 21.45 sampai di IGD AR Bunda , dan hasil rapid test dari klinik rujukan hasilnya non reaktif,”tegasnya.

Langkah selanjutnya yang akan ditempuh pihak keluarga yakni pertama akan menyurati rumah sakit untuk memberikan klarifikasi , melaporkan Kemenkes RI,dan Badan Pengawas Rumah Sakit (BPRS) , dan jika tidak ada hasil yang didapat maka akan ditempuh jalur hukum.

” Pihak keluarga sudah bulat, kasus ini akan dibawa sampai ke jalur hukum, karena sangat janggal penetapan positif covid terhadap ayah kami, mereka bilang positif harus dimakamkan dengan protokol covid tapi di Empat Lawang dimakamkan normal, dimandikan lagi, ibu (Istri almarhum) malah meluk, mencium, anak-anaknya yang lain juga mencium almarhum, dites swab setelah itu hasilnya negatif,”jelasnya.

Dituturkanya, tes swab terhadap M Danil, memang pernah dijadwalkan di 31Agustus 2020, namun pasien meninggal dunia dihari yang sama pukul 05.05 WIB sebelum jadwal swab tiba.

” Pihak rumah sakit ngomong, tidak bisa swab malam hari, besok saja, tapi ayah sudah meninggal pukul 05.05 belum sempat swab, ibu kami itu tidak pernah sedikit pun meninggalkan ayah, dia selalu menemani baik di UGD, ruang isolasi sampai jenazah ayah di bungkus kafan, disholatkan dan masuk kedalam peti,”tambanya.


# Dirut AR Bunda Bersedia Buka Rekaman CCTV Jika Diminta Polisi

Direktur RS AR Bunda Lubuklinggau,dr Sarah didampingi penasehat hukum, Andika Wira Kesuma, dan Jubir GTPP Lubuklinggau,dr Jeanita menggelar konfrensi pers namun tidak menjelaskan soal objek permasalahan, melainkan memaparkan hal-hal lain berakaitan dengan protokol covid.

Awak media yang hadir tampak bingung, karena konfrensi pers yang digelar tidak spesifik membahas persoalan yang tengan kontroversi, tambah bingung lagi tidak adanya sesi tanya jawab dengan awak media.

Namun, setelah konfrensi pers ditutup dengan salam, kami mencoba memulai pertanyaan sendiri mengenai kontroversi penetapan pasien positif covid.

Pertanyaan ini dijawab oleh Penasehat hukum RS AR Bunda, Andika Wira Kesuma. Dia mengatakan bahwa persoalan corona
sudah mendunia bukan Empat Lawang saja.

” Daerah lain juga banyak juga yang masalah tidak senang, merasa aib,dipermalukan, itu bukan hanya diempat lawang lo,permasalahan ini sudah nasional dan internasional,”kata Andika.

Dr Sarah,membantah tudingan pihak keluarga almarhum M Danil tersebut.

” Tidak mungkin kami mengeluarkan hasil tanpa proses yang prosedural, kalau untuk membuka CCTV kami bisa kalau pihak berwajib yang meminta,”kata Sarah.

Pengacara AR Bunda Siap Hadapi Tuntutan Keuarga

Saat diwawancarai lebih lanjut, Andika menyatakan jika pihak keluarga atau ahli waris ingin menempuh jalur hukum,pihaknya siap menghadapi hal tersebut.

Ditanya soal bukti bahwa memang dilakukan tes swab seperti yang diminta pihak keluarga, Andika menyatakan jika ingin membuktikan ke pengadilan atau ke lembaga lain.

” Kami tidak perlu membuktikan, kalau mereka mau membuktikan ya suda ke pengadilan atau kemana, tugas kita bukan membuktikan lho,kalau mau membuktikan, misalnya contoh oh aku dak senang keluarga aku dioperasi kareno ninggal, tolong buktikan operasi itu, dak mungkinlah,”kata dia.

Andika mengaku sebagai lawyer siap menghadapi jika pihak keluarga menempuh jalur hukum, namun penggugat harus siap juga karena ada konsekuensi jika terjadi kerugian rumah sakit dan pencemaran nama baik.


Perjalanan Almarhum Danil Hingga Dinyatakan Positif Corona

Sedangkan dilansir Swarnanews.com, Suryati (istri almarhum M Danil) menceritakan kronologis penyakit mendiang suaminya bahwa pada dasarnya Ia sekeluarga punya riwayat penyakit asma termasuk almarhum M Danil.

“Bermula pada Minggu, 30 Agustus 2020 sekira pukul 07:00 WIB, Pak Danil dibawah berobat ke RSUD Empat Lawang. Sekitar pukul 08.00 WIB dimasukkan ke ruangan IGD pada RSUD tersebut. Dan dilakukan tindakan medis antara lain dipasangkan oksigen dan dokter mengambil sampel untuk rapid test. Pada pukul 09.00 WIB hasil rapid test Bapak keluar dan dinyatakan non reaktif. Kemudian dilakukan pemeriksaan jantung dan sebagainya, dan alhamdulillah kondisi Bapak membaik. Sehingga akhirnya pada pukul 13.00 WIB atas permintaan Bapak sendiri, Ia minta dibawa kembali ke rumah lantaran merasa sudah sehat”, tutur Suriyati.

Namun selang beberapa waktu kemudian lanjut Suriyati, tepatnya pukul 15.30 WIB, almarhum M Danil mengalami kesulitan bernapas, sehingga Ia dan keluarga berinisiatif membawanya ke salah satu klinik di Kecamatan dalam wilayah Kabupaten Empat Lawang. Setibanya di Klinik itu, Danil diberikan tindakan medis berupa pemberian oksigen dan Nebulizer serta obat lainnya.

Kemudian lanjut Suriyati, pada sekira pukul 18.00 WIB, seingatnya usai kumandang adzan Magrib, pihak klinik tersebut merujuk mendiang M.Danil ke salah satu Rumah Sakit swasta yang cukup bonafit di Kota Lubuklinggau.

“Alasan dokter yang ada di Klinik itu merujuk Bapak ke RS di Lubuklinggau lantaran pihak klinik masih nengalami keterbatasan peralatan medis yang canggih dan memadai. Berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan yang dilakukan oleh pihak klinik, suami saya mengalami penyakit gangguan jantung. Sehingga atas anjuran dan rujukan dokter di klinik itu kami membawa almarhum Pak Danil ke salah satu Rumah Sakit swasta di Lubuklinggau”, ungkap Suriyati.

Masih kata Suriyati, sekira pukul 19.00 WIB, masih di hari yang sama yaitu 30/08/2020, Ia dan keluarga meluncur ke Kota Lubuklinggau menuju sebuah rumah sakit swasta sebagaimana dirujuk oleh dokter di Klinik tadi. Setibanya di rumah sakit yang dituju sekira pukul 21.45 WIB, mendiang M Danil dimasukkan ke ruangan IGD juga diberikan oksigen hingga pukul 01.00 WIB. Juga diberikan infus dan nebulizer oleh dokter dan tim medis.

“Salah seorang dokter RS Swasta di Lubuklinggau menyatakan, Pak M Danil diduga terpapar virus Covid-19. Dan seharusnya dirawat di ICU. Lantaran ruangan ICU sudah penuh. Dokter dan tim medis memutuskan suami saya dimasukkan ke ruang isolasi dengan terlebih dahulu melalui persetujuan keluarga,” kata Suriyati seraya menirukan perkataan seorang dokter yang bertugas pada RS Swasta di Kota Lubuklinggau.

Rupian Effendi anak kandung Korban, juga menceritakan, sebelumnya telah disepakati antara pihak rumah sakit tempat ayahnya dirawat dengan pihak keluarganya, bahwa meskipun mendiang ayahnya dimasukkan ke ruangan isolasi tetapi ibunya (red: Suriyati) harus boleh selalu menemani.

“Sehingga dapat kami pastikan selama ayah dirawat di ruangan isolasi tidak sedetikpun Ibu meninggalkan pasien. Ibu selalu berada dekat dan bahkan memeluk Ayah”, kata Rupian.

Bahkan lanjut ASN di Kantor Kecamatan Talang Padang Kabupaten Empat Lawang ini, ibunya terus berada di samping ayahnya saat kritis dan menghembuskan napas terakhirnya.

“Ibu juga terus memandang dan mengawasi petugas rumah sakit swasta di Lubuklinggau saat prosesi kremasi, menshalatkan hingga memasukkan jenazah ke peti”, bincang Rupian dengan mata berkaca-kaca.

Yuni Sundari (26) anak bungsu dan putri semata wayang almarhum M Danil dan Suriyati juga menceritakan, bahwa ayahnya dinyatakan meninggal pada 31/08/2020 sekira pukul 05.05 WIB.

Selanjutnya jasad M Danil dikremasi oleh dua orang perawat atau tenaga medis di RS Swasta Lubuklinggau. Kemudian datang lagi tiga orang petugas medis dengan mengkonfirmasi kepada pihak keluarga bahwa prosesi kremasi jasad akan diberlakukan sesuai dengan protokol Covid-19. Dan prosesi kremasi selesai pukul 07.00 WIB.

“Kami pihak keluarga saat itu meminta untuk jasad Ayah dibawah dengan cara biasa dan dikebumikan dengan secara keluarga. Sebaliknya pihak RS bersih keras supaya jasad Ayah dibawah dengan protokol Covid”, kata Yuni Sundari dengan mimik sedih.

Dilanjutkan guru honorer alumni FKIP UNSRI Jurusan Ilmu Matematika ini, pada sekira pukul 08.00 WIB, Ibunya keluar dari ruang isolasi. Saat itu jasad Ayah sudah dibungkus dan diletakkan di dalam peti mati.

Lalu lanjutnya, pada sekira pukul 09.00 WIB, 31/08/2020, dengan persetujuan pihak RS jasad ayahnya boleh dibawah pulang pihak keluarga. Dengan kereta jenazah atau ambulance, salah seorang saudara dan ibunya saja boleh mendampingi jenazah ayahnya selama perjalanan pulang ke Empat Lawang.

Lalu sekira pukul 13.00 WIB di hari yang sama (31/08/2020), jasad M.Danil tiba di rumah duka dan disambut pihak keluarga serta warga Desa Padang Titiran yang menyaksikan prosesi pemakaman. Konon tanpa dihadiri unsur Dinas Kesehatan Kabupaten Empat Lawang.

“Prosesi pemakaman ayah juga dilakukan secara biasa tidak dengan protokol Covid-19. Karena Kami yakin mendiang ayah Kami tidaklah terpapar Covid-19 sebagaimana yang divonis oleh pihak RS swasta di Lubuklinggau itu”, tegas Yuni Sundari.

Sumber : linggaumetropolis.com (Linggau Update Media Grup)

Pos terkait