Minta Maneger HRD Diganti, Ratusan Pemanen PT PHML Mogok Kerja

  • Whatsapp

MUSI RAWAS – Ratusan buruh pemanen buah kelapa sawit PT Perkebunan Hasil Musi Lestari (PHML), melakukan mogok kerja, Selasa (19/11). Hal ini dilakukan, karena kebijakan yang dikeluarkan oleh manajemen perusahaan diduga tidak berpihak ke para pekerja.

Seperti, upah yang diberikan tidak sesuai dengan Upah Minimum Kabupaten (UMK), pemotongan cuti hari raya. Pemanen disuruh mengumpulkan berondolan buah kelapa sawit, diminta untuk tidak merokok di kebun sawit, keberatan bila surat izin sakit harus melampirkan diagnosa karena penyakit diketahui oleh orang pabrik. Selanjutnya, minta pemberian izin bila ada kerabat, tetangga atau keluarga yang meninggal tidak dipersulit, serta minta diperkecil denda buah mentah, ongkos maupun buah tinggal karena membebani pekerja.

“Kalau sampai tuntutan kami ini tidak dikabulkan, kami masih akan mogok kerja,” kata Sawiran didampingi ratusan pekerja.

Ia menjelaskan, sebenarnya PT PHML sudah tiga kali ganti HRD, semuanya berjalan seperti biasanya, tidak ada sedikitpun gejolak. Namun, ketika dipimpin oleh Deby Damayanti tiba-tiba kebijakan yang dikeluarkan oleh PT PHML, semuanya tidak berpihak ke perusahaan.

“Bahkan, pada pembentukan PKB (Perjanjian Kerja Bersama, red) tidak melibatkan karyawan. Ada apa ini, kami yang bekerja tapi tidak dilibatkan,” jelasnya.

Selain itu, terjadi tindakan semena-mena dan tidak manusiawi terhadap Saulus Dwi Katulistiawan yang baru selesai operasi usus buntu dan direkomendasikan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Muara Beliti untuk istirahat selama tiga bulan, malah diminta untuk bekerja seperti biasanya.

“Kalau tidak bisa lagi bekerja diminta untuk mengundurkan diri. Artinya, tindakan yang dilakukan oleh manager HRD PT PHML tidak manusiawi,” tegasnya.

Maka dari itu, pihaknya akan mogok kerja sampai tuntutannya dikabulkan, dan ditemukan dengan pihak-pihak pengambil kebijakan.

“Bila tuntutan kami tidak ditanggapi, kami akan mogok kerja sampai waktu yang tidak ditentukan. Kemudian, bila kami diminta untuk keluar dari perusahaan. Kami minta dilakukan pemutihan, dan ini bentuk kekecewaan kami terhadap PT PHML. Kami sudah kerja keras, tapi tidak ada artinya di mata mereka,” ujarnya.

Sementara itu, salah satu staf HRD PT PHML yang namanya enggan dikorankan menyampaikan kalau pihaknya belum bisa menerima tuntutan dari para pemanen. Sebab, aksi mogok kerja yang dilakukan pemanen tidak prosedural, tidak ada pemberitahuan sebelumnya kalau ada kegiatan mogok kerja.

“Maaf bapak-bapak, kami tanggapi yang prosedural saja,” jelasnya dihadapan pendemo.(ADV)

Pos terkait